Ilustrasi asuransi syariah (istimewa)

JAKARTA [JDN] – Prospek Industri asuransi syariah menjanjikan. Hal itu terkait besarnya pasar masyarakat Indonesia yang bisa dibidik dan keunikan produk asuransi itu sendiri. Apalagi, di saat ekonomi terpuruk akibat pandemi Covid-19, industri ini malah mencatat pertumbuhan yang cukup baik.

Wakil Presiden (Wapres) KH Ma’ruf Amin dalam sebuah kesempatan baru-baru ini juga menyatakan  bahwa industri asuransi syariah memiliki prospek menjanjikan.

Menurut dia, setidaknya ada empat hal yang mendukung perkembangan industri syariah. Pertama, karena mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam.

Kedua, meningkatnya pemahaman tentang halal di kalangan masyarakat kelas menengah Muslim dan generasi milenial, sehingga kebutuhan produk, jasa, dan layanan keuangan syariah meningkat. ‘

Ketiga, terkait kondisi pandemi Covid-19 dan bencana alam di beberapa wilayah Indoensia. Pandemi Covid-19 dan bencana alam mengakibatkan kebutuhan terhadap jasa perlindungan atas risiko jiwa, harta, dan perusahaan semakin meningkat.

Keempat, kata Wapres, sentimen positif terhadap dukungan dan komitmen pemerintah melalui pengembangan ekonomi dan keuangan syariah. Dukungan itu ditandai terbitnya Perpres 28 Tahun 2020 tentang Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS).

“Ekonomi dan keuangan syariah membutuhkan elemen pendukung yang bergerak dalam satu kesatuan ekosistem. Karena itu, semua pihak dituntut mengoptimalkan peran masing-masing elemen dalam memperluas peran ekonomi dan keuangan Syariah,” tutur dia.

Menurut Wapres, tidak hanya untuk Indonesia, tapi juga di tingkat dunia, sehingga cita-cita menjadikan Indonesia sebagai pusat ekonomi syariah terkemuka dunia bisa diwujudkan bersama.

Wapres menambahkan,  asuransi syariah memiliki ciri khas pada nilai-nilai yang tidak dimiliki asuransi lain. Di antaranya melalui metode ta’awun atau tolong-menolong disertai landasan operasional yang transparan untuk menghindari pihak-pihak yang dirugikan.

Selain itu, asuransi syariah terhindar dari unsur ketidakpastian atau kecurangan, termasuk praktik riba.

Keunggulan nilai-nilai tersebut kiranya dapat terus diresapi dan dijaga pelaksanaannya. Karena itulah, Wapres meminta AASI sebagai wadah perusahaan asuransi syariah dan perusahaan reasuransi syariah di Indonesia dapat terus berperan aktif mengoptimalkan perannya serta menjembatani para pemangku kepentingan, seperti ulama, pemerintah, lembaga keuangan syariah, dan masyarakat.

Artinya, tambah Wapres, muruah ekonomi dan keuangan syariah dapat terjaga dengan baik.

Wapres juga berharap rapat anggota tahunan AASI 2021 menghasilkan rumusan bersama berupa program-program strategis yang dapat mempercepat perkembangan asuransi syariah di Tanah Air.

Sebelumnya, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menginginkan Indonesia menjadi pemain global untuk ekonomi dan keuangan syariah karena memiliki potensi besar dan sudah menjadi tren dunia.

 

“Setiap tahun Indonesia semakin bergerak maju untuk menjadi pusat pengembangan ekonomi dan keuangan syariah dunia,” kata dia beberapa waktu lalu.

Menurut dia sejak 2015, BI, pemerintah, dan instansi terkait lainnya meningkatkan langkah pengembangan ekonomi dan keuangan syariah yang banyak fokus di perbankan dan kini semakin diperluas di antaranya pasar modal, mobilisasi zakat, dan wakaf produktif.

Pada kesempatan terpisah, Sekretaris Ditjen Bimas Islam Kementerian Agama M Fuad Nasar dalam keterangan tertulisnya mengajak generasi muda semakin terpantik dalam mempelajari konsep ekonomi dan keuangan syariah yang dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan tren positif.

“Dewasa ini, instrumen perbankan syariah, pasar modal, asuransi, reksadana, obligasi dan surat berharga atau sukuk kini semakin berkembang menjadi alternatif yang memiliki keunggulan kompetitif,” ​​​​ujarnya.

Menurut dia naiknya tren perkembangan ekonomi dan keuangan syariah dianggap mampu menjadi jawaban atas masalah perekonomian nasional saat ini. Apalagi pandemi global membuat hampir seluruh negara kelimpungan mengatasi dampak yang ditimbulkan.

Bahkan kata dia, secara substansi ekonomi syariah sesungguhnya telah mencerminkan konsep sila kelima Pancasila, yaitu Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

 

Tumbuh 3,83%

Sebelumnya, Kepala Eksekutif Pengawas Industri Keuangan Non-Bank (IKNB) Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Riswinandi pada rapat anggota tahunan Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia (AASI) 2021 di Jakarta, baru-baru ini mengatakan, pangsa pasar asuransi syariah terhadap asuransi komersial atau konvensional pada akhir 2020 mencapai 6%.

“Selama 27 tahun perjalanannya, industri syariah tentu mengalami berbagai tantangan, kendala, dan permasalahan. Namun di sisi lain juga ditemui peluang, dukungan, dan catatan keberhasilan,” kata

Riswinandi menjelaskan, kontribusi asuransi syariah pada Desember 2020 secara tahunan (year on year/yoy) masih mencatatkan pertumbuhan 3,83%. Selain itu, pangsa pasar asuransi syariah terhadap asuransi komersial nasional per 31 Desember 2020 mencapai 6%, tidak jauh berbeda dengan pangsa pasar perbankan syariah terhadap perbankan konvensional yang mencapai 6,5%.

Bahkan, kata dia, dalam lima tahun terakhir, industri asuransi syariah masih mencatat pertumbuhan yang menggembirakan. Aset asuransi syariah meningkat cukup signifikan dari Rp 33,24 triliun pada akhir 2016 menjadi Rp 44,44 triliun pada akhir 2020.

Namun, Riswinandi mengakui, pada akhir 2020 aset industri asuransi syariah turun dibandingkan periode sama tahun sebelumnya menjadi Rp 44,44 triliun, atau berkurang 2,2% dari posisi Desember 2019 sebesar Rp 45,40 triliun.

“Hal ini disebabkan penurunan kinerja pasar modal Indonesia, mengingat portofolio investasi asuransi syariah didominasi di pasar modal, yaitu sebesar 81,4%. Tercatat penurunan investasi sebesar 6,29% dan hasil investasi sebesar 70,07%,” tutur dia.

Riswinandi mengungkapkan, OJK menyadari 2020 bukanlah tahun yang mudah karena dihadapkan pada pandemi Covid-19.

“Untuk mendukung perkembangan asuransi syariah yang lebih baik, dibutuhkan sinergi berkesinambungan dari semua pihak, baik OJK, asosiasi, pelaku industri asuransi syariah, maupun stakeholders lainnya. Selain itu, asuransi syariah perlu beradaptasi dan terus berinovasi guna menjawab berbagai tantangan di masa mendatang,”  papar dia. [ID/Ant/YS]