Suasana proses bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Kamis (3/3). Lembaga riset pasar global Frost and Sullivan menyatakan pada 2015 hingga 2020 industri transportasi dan logistik di Indonesia akan meningkat hingga 15,4 persen. ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan/aww/16.

Jakarta [JDN] – Dua lembaga pemeringkat internasional yakni Rating and Investment Information, Inc (R&I) dan Standard and Poor’s (S&P) mempertahankan peringkat kredit Indonesia.

Peringkat Indonesia tetap pada posisi BBB+ outlook stable versi R&I dan BBB outlook negative oleh S&P.

Hal itu melengkapi penilaian rating kredit Indonesia setelah terakhir Fitch juga mempertahankan peringkat kredit Indonesia pada 22 Maret 2021.

Seperti dikutip dari laman Kemenkeu, akhir pekan lalu disebutkan, pemberian afirmasi peringkat kredit Indonesia merupakan bentuk pengakuan pihak terkait internasional atas stabilitas makroekonomi dan prospek ekonomi baik jangka pendek maupun jangka menengah Indonesia di tengah 140 rating downgrade action sejak awal tahun 2020 akibat pandemi Covid-19.

Kemenkeu menilai, keputusan R&I dan S&P ini sekali lagi memberikan konfimasi bahwa langkah penanganan pandemi Covid-19 dan pemulihan ekonomi di Indonesia berjalan di jalurnya.

Kedua lembaga pemeringkat menilai Indonesia mampu menjaga kondisi perekonomian tetap stabil di tengah tekanan kondisi eksternal dan fiskal akibat Covid-19 yang dihadapi.

Penilaian S&P menekankan pada prospek pertumbuhan ekonomi yang solid dan rekam jejak pengelolaan disiplin fiskal yang baik.

Selain itu, langkah komprehensif yang diambil Pemerintah dalam penanganan pandemi dianggap mampu meredam dampak sosio-ekonomi yang lebih dalam. Dukungan institusi dan stabilitas politik menjadi kekuatan Indonesia untuk menghadapi tantangan kesehatan, ekonomi, dan sosial.

Sejalan dengan S&P, R&I menekankan optimisme upaya vaksinasi yang tengah dilakukan Pemerintah akan menjadi kunci pemulihan ekonomi Indonesia.

Keputusan lembaga pemeringkat mempertahankan peringkat kredit Indonesia merupakan pengakuan atas stabilitas makroekonomi dan prospek jangka menengah Indonesia yang tetap terjaga di tengah situasi pandemi Covid-19. Hal ini tentunya dapat tercipta melalui dukungan kredibilitas kebijakan dan sinergi bauran kebijakan yang tetap kuat antara Pemerintah, Otoritas Moneter dan Otoritas Sistem Keuangan.

R&I menilai Pemerintah sanggup melakukan konsolidasi fiskal dengan langkah-langkah strategis yang telah dipersiapkan serta merekomendasikan peningkatan basis pajak untuk mendukung upaya tersebut.

Di akhir pernyatannnya, R&I juga menilai bahwa kebijakan Bank Indonesia untuk membeli SBN Pemerintah di pasar primer di tahun 2020 dan menjadi standby buyer di tahun 2021 tidak akan mempengaruhi peringkat kredit Indonesia selama dilakukan secara temporer. [YS]