Ilustrasi energi terbarukan. [Foto: Istimewa]
Jakarta [JDN] – Pengembangan energi terbarukan berbasis tenaga nuklir dan baterai masuk dalam lima program Prioritas Riset Nasional 2020-2024.

“Pemerintah tetap menjaga pengembangan teknologi nuklir untuk memastikan pemenuhan kebutuhan listrik saat ekonomi Indonesia semakin tumbuh di masa yang akan datang dengan mematuhi Paris Agreement atau green economy,” ujar Menteri Riset Dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional (Kemenristek/BRIN) Bambang Brodjonegoro seperti dikutip dari situs Sekretariat Kabinet, baru-baru ini.

Ia menambahkan, selain itu prioritas lainnya adalah pengembangan baterai listrik. Riset untuk baterai listrik ini mencakup baterai litium dan pengembangan fast charging untuk keperluan kendaraan listrik serta teknologi battery swapping.

“Kita harapkan nantinya ketika kendaraan listrik mulai dipromosikan sebagai komitmen kita mengurangi emisi, maka teknologi itu sudah siap pakai dan bisa dikembangkan di Indonesia,” ujarnya.

Riset prioritas energi baru terbarukan (EBT) lainnya adalah terkait bahan bakar nabati dengan target menghasilkan bahan bakar yang 100% berasal dari bahan baku kelapa sawit. Tujuannya untuk mengurangi impor Bahan Bakar Minyak (BBM).

ITB telah mengembangkan katalis untuk bahan bakar nabati tersebut yang telah diujicobakan di kilang Pertamina. Diharapkan, produksi massal dapat segera terlaksana.

“Harapannya tidak lama lagi kita bisa masuk pada skala produksi, baik untuk diesel, bensin, maupun untuk avtur,” tutur dia.

Lalu riset biogas yang banyak dipakai terutama di perkebunan sawit. Biogas merupakan alternatif terbaik untuk penyediaan listrik di tempat-tempat yang relatif terpencil.

Kemudian, riset Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) skala kecil, mengingat sangat mahalnya investasi yang dibutuhkan pada pembangkit berskala besar.

“Kami mengembangkan PLTP skala kecil yang mudah-mudahan bisa dikembangkan di berbagai daerah yang punya kandungan panas bumi, sehingga listrik yang dihasilkan akan bermanfaat bagi daerah sekitarnya,” imbuhnya.

Bambang menambahkan, dalam kerangka Paris Agreement dan green economy, pihaknya juga mengembangkan penelitian berbasis ekonomi sirkular. Selama ini, ekonomi bersifat linier di mana limbahnya tidak terurus dan menjadi beban.

“Dengan ekonomi sirkular, limbah yang muncul dari kegiatan ekonomi akan diolah kembali, bisa diolah menjadi bahan lainnya, tapi sebagian bisa menjadi energi,” imbuhnya. [YS]