JAKARTA (JDN) – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai, pandemic Covid-19 yang merebak di seluruh dunia bisa menjadi momentum kebangkitan industri asuransi. Industri asuransi kini dapat kembali pada misi utamanya yakni memberikan proteksi. Tak hanya itu, pandemi memacu industri asuransi memutar otak untuk mencari strategi baru dalam pemasaran, terutama memanfaatkan teknologi digital.

Hal itu dikatakan Kepala Eksekutif Pengawas Industri Keuangan Non Bank (IKNB) OJK Riswinandi dalam seminar virtual di Jakarta, baru-baru ini.

“Kebijakan dan regulasi bakal semakin dinamis di masa mendatang. Dengan begitu, produk asuransi juga akan lebih variatif dan beragam. Dampaknya, pengaturan nilai premi dan proses underwriting akan semakin kreatif dan inovatif,” tutur dia.

Menurut Riswinandi, hal itu tentu perlu diakomodasi dengan regulasi yang tepat tanpa membatasi inovasi.

Ia menjelaskan, saat ini pandemi Covid-19 sudah mulai mengarah ke tahap pemulihan, terutama dengan adanya aktivitas vaksinasi yang dijalankan pemerintah. OJK berharap, semakin membaiknya ekonomi global dan terkendalinya pandemi memberi dampak positif.

Menurut dia, dampak negatif pandemi pada awal 2021 untuk industri asuransi tampak berkurang. Hal itu dapat dilihat dari realisasi pertumbuhan aset industri asuransi komersial di posisi Januari 2021. Aset tumbuh positif 1,73% (yoy) yakni dari sebelumnya pada posisi Januari 2020 sebesar Rp 734,64 triliun, menjadi Rp 747,37 triliun pada Januari 2021.

Riswinandi menyampaikan, suasana pandemi saat ini memang merupakan representasi seorang chief technology officer, yang mau tidak mau mesti mengoptimalkan teknologi di dalam menjalankan bisnis berkelanjutan.

Makanya, kata dia, pihaknya memandang perlu adanya pemberian beberapa kesempatan berinovasi bagi perusahaan asuransi di dalam menjalankan bisnis melalui sejumlah relaksasi.

Baca juga: Industri Asuransi Mulai Membaik

Dikatakan, inovasi melalui pemanfaatan teknologi salah satunya terkait pemasaran secara virtual bagi produk asuransi yang dikaitkan dengan investasi. OJK akan memberi kesempatan pemasaran secara virtual, dengan tetap melihat persiapan IT dari tiap perusahaan.

Namun, sampai saat ini yang bisa lolos verifikasi OJK baru 12 perusahaan. Harapannya, seluruh perusahaan bisa melakukan pemasaran digital. Tentunya dengan penyiapan IT yang maksimal.

Sebelumnya, dalam kesempatan terpisah, Kepala Departemen Digital Initiatives Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) Yurivanno Gani mengungkapkan, AAJI berkomitmen untuk mendukung perkembangan transformasi digital di sektor asuransi jiwa dengan tetap memperhatikan aspek perlindungan konsumen.

“Di era pandemi Covid-19 ini, komitmen AAJI dibuktikan dengan pembayaran total klaim dan manfaat yang mencapai Rp 64,52 triliun sepanjang semester I-2020 di mana proses klaim juga dapat dilakukan dengan proses digital,” ujar dia. [YS]