Ilustrasi kredit

Jakarta – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) optimistis penyaluran kredit perbankan akan tumbuh pada 2021 karena geliat pertumbuhan kredit telah terlihat.

“Di bulan-bulan terakhir ini sudah mulai naik, kami menyambut baik ini hanya saja naiknya kayaknya harus lebih cepat lagi,” ujar Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso saat talkshow bertajuk Temu Stakeholder untuk Percepatan Pemulihan Ekonomi Nasional di Semarang, Kamis, sebagaimana dikutip dari Antara.

Wimboh juga mendorong perbankan untuk menurunkan tingkat suku bunga kredit karena Bank Indonesia telah memangkas suku bunga acuan hingga ke level terendah sepanjang sejarah, yakni 3,5 persen.

“Suku bunga kami imbau, ruangnya sudah ada, ada beberapa perusahaan yang di-restructuring, beban bagi perbankan untuk melakukan credit rationing. Namun dengan tumbuhnya kredit kami harapkan ruang penurunan suku bunga lebih besar, ruang itu ada, tinggal tunggu waktunya untuk menurunkan ini,” jelas Wimboh.

Ia menyebutkan likuiditas perbankan tidak menemui kendala, bank mempunyai ruang yang luas serta NPL (non performing loan) masih terkendali. Sehingga ia berharap kinerja kredit dapat diakselerasi untuk mendorong target pertumbuhan kredit sebesar 7,5 persen dan pertumbuhan ekonomi sebesar 4,5 hingga 5,3 persen pada 2021 dapat terwujud.

“Kami monitor agar credit growth 7,5 persen ini bisa tercapai di 2021 dan kalau itu tercapai kami yakin bisa untuk mendukung pertumbuhan ekonomi di 4,5 persen di akhir tahun ini,” ujarnya.

Secara total penyaluran kredit perbankan mengalami kontraksi sebesar 2,15 persen (yoy). Kredit BUMN dan BPD menunjukkan tren pertumbuhan masing-masing sebesar 1,5 persen (yoy) dan 5,75 persen (yoy). Sedangkan kredit di Bank Umum Swasta Nasional (BUSN) dan bank asing masing-masing terkontraksi, sebesar 5 persen (yoy) dan 25,56 persen (yoy).

Namun, jika dilihat secara month to month (MoM) pada Januari, kredit perbankan mulai menunjukkan perbaikan dengan total pertumbuhan 0,41 persen. Kredit BUMN, BPD, dan bank asing masing-masing tumbuh 0,80 persen (MoM), 0,40 persen (MoM), dan 1,49 persen (MoM). Sedangkan kredit BUSN masih terkontraksi 0,08 persen.