Jakarta (JDN) Masyarakat yang hidup di Lapak Pemulung, selama ini hidup mereka sering terpinggirkan. Pengetahuan yang terbatas di bidang regulasi, dan hukum, membuat pemulung rentan terhadap kejahatan. Pemulung sering juga terjebak, bahkan menjadi korban oleh tindak hukum yang membuat mereka rentan terpapar sebagai kaum marjinal.

Hal itu terungkap pada penyuluhan Kenali Hukum Jauhi Hukuman yang diadakan oleh LBH Pelsim (Perkumpulan Pengolah Limbah dan Sampah Indonesia Mandiri ) di Jakarta, Jumat (9/4/2021). Penyuluhan ini ikuti oleh puluhan pemulung di kawasan Kalibata, Jakarta Selatan.
“Sebaiknya masyarakat diberdayakan dengan membekali mereka pengetahuan dasar yang berkaitan dengan tindak kejahatan. Apalagi pemulung rentan dengan transaksi yang dapat menjebak mereka kepada penyelewengan hukum,” kata Puji Rahayu dari Ditjen Pemasyarakatan Kemenhumham.

Kegiatan Penyuluhan Hukum LBH Pelsim

Rudi Simamora dari LBH Pelsim menambahkan, dengan menyadari pentingnya pemahaman masalah hukum bagi pemulung ini, mereka akan lebih tertib menjalankan tugasnya. Supaya pemulung jangan sampai menjadi obyek pemerasan karena kebodohan mereka. “Pelsim akan memberi bantuan hukum secara cuma-cuma, seandainya pemulung bermasalah dengan kriminalitas. Sebaiknya sih jangan sampai terjerumus ke dalam kejahatan,” kata advokat ini.

Materi penyuluhan ini berhubungan dengan pembekalan hukum pidana penadah, pencurian, memasuki lahan orang tanpa izin. Yaitu Pasal 480 K-U-H-P tentang penadah, Pasal 362 tentang Pencurian, dan Pasal 167 tentang memasuki pekarangan orang tanpa izin.

Iptu Supardi, Kanit Reskrim Polsek Pancoran yang hadir di acara ini, menyatakan perlunya mendalami kehidupan pemulung. Supaya masyarakat memahami kesulitan yang dihadapi pemulung selama ini. Mereka berada di lapisan masyarakat yang rentan dengan bermacam-macam problem sosial ekonomi. Tidak sedikit di antara pemulung yang hidup di bawah garis kemiskinan. Dengan mendalami kehidupan nyata mereka di lapangan, masyarakat akan memahami kesulitan ekonomi para pemulung. “Pengalaman saya selama tiga puluh tahun lebih bergerak di bidang reserse kriminal, pendekatan kemanusiaan dapat memudahkan tugas kami di lapangan. Mereka umumnya orang baik, hanya saja tidak berdaya untuk mengangkat harkat martabatnya, maupun untuk meningkatkan perekonomian keluarganya,” kata Supardi.

Iptu Supardi, Kanit Reskrim Polsek Pancoran


Ketua Umum Pelsim, Benget Manahan Simbolon menjelaskan, LBH Pelsim hadir untuk pemulung dan pengolah sampah. Perhatian terhadap pemulung, bukan hanya aspek hukum pemidanaan, tetapi juga kesejahteraan pemulung. Pelsim sedang menggalang simpatisan, supaya masyarakat mau berbagai untuk kesejahteraan pemulung dan pengolah sampah. Pelsim sedang mempersiapkan rumah singgah bagi pemulung di Cileduk, Kota Tangerang.

Elizabeth peduli pemulung


Penyuluhan ini dihadiri oleh Abdul Rozak dari Badan Pembinaan Hukum Nasional, Elizabeth Adriana Panggabean sebagai fasilitator dan donator mandiri, Paulina Marpaung dari Kemitraan Indonesia Australia untuk Infrastruktur, Rudy Wakano selaku Ketua LBH Pelsim. Penulis cerita R Mulia Nasution menyumbangkan novel Rahasia Tondi Ayahku kepada pemulung yan hadir. Penyuluhan ini dipandu oleh Mahfud Amin yang juga seorang advokat.