Ilustrasi trem. [Foto: Wikipedia]
 Jakarta [JDN] – Kementerian Perhubungan melalui Badan Litbang Perhubungan (Balitbanghub) menggandeng dua perguruan tinggi negeri yaitu Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Universitas Gadjah Mada (UGM) dalam menyusun naskah akademik penyiapan regulasi trem otonom (Autonomous Rail Transit/ART) di Indonesia.

“Ini bentuk komitmen kami dalam mengupayakan kehadiran transportasi publik ramah lingkungan dan hemat energi, serta menjadikannya sebagai kebutuhan massal masyarakat Indonesia,” ujar disampaikan Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi saat membuka Forum Group Discussion (FGD) tentang Autonomous Rail Transit yang diselenggarakan Balitbanghub secara virtual, 27 April 2021.

Menhub mengatakan, regulasi penerapan trem otonom ini perlu disiapkan dalam rangka mendukung terimplementasinya penggunaan angkutan massal berbasis listrik tersebut di Indonesia.

Disebutkan, trem otonom merupakan salah satu inovasi untuk moda transportasi publik yang menggabungkan karakteristik kereta (light rapid transit/LRT) dan bus (bus rapid transit/BRT). Trem Otonom merupakan moda yang berbentuk seperti kereta LRT, namun tidak beroperasi di atas rel, melainkan beroperasi di atas jalan dengan ban yang dipandu lintasan yang disebut sebagai virtual track.

“Penyiapan regulasi ini harus kita lakukan sejak dini, agar nantinya Indonesia sudah siap dalam menyambut otomatisasi kendaraan ketika teknologi tersebut sudah masuk ke dalam negeri,” kata Menhub.

Menhub menyebut, ada tiga kota yang akan dijadikan pilot project penerapan trem otonom yaitu di Yogyakarta, Surabaya, dan Denpasar, yang saat ini kajiannya tengah dilakukan oleh ITB, UGM, ITS, dan Universitas Udayana.

Sementara itu, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Perhubungan Umar Aris, mengatakan, naskah akademik penerapan trem otonom di Indonesia ini akan menjadi pedoman pembentukan peraturan pelaksanaan yang setara maupun di bawah Peraturan Presiden dan Peraturan Menteri Perhubungan yang mengatur terkait Trem Otonom.

“Naskah akademik ini merupakan struktrur dasar dalam membangun kerangka regulasi yang memuat beberapa hal diantaranya yaitu terkait sistem operasi, standar teknis sistem keselamatan bisnis, pembiayaan dan manajemen risiko, serta hal lainnya seperti peta jalan, sampai dengan penyediaan infrastruktur untuk pengisian daya kendaraan listrik,” ucap Umar Aris.

Umar menjelaskan, perumusan regulasi ini perlu diharmonisasikan dengan berbagai pemangku kepentingan. Setidaknya terdapat enam kementerian/lembaga yang terlibat secara langsung dalam penyusunan regulasi trem otonomi ini yaitu: Kemenhub, KemenPUPR, Kementerian ATR/Pertanahan, Kementerian Perindustrian, Kementerian ESDM, Kementerian Kominfo, Pemerintah Daerah dan Polri.

FGD itu turut dihadiri sejumlah pemangku kepentingan yakni: Bappenas, Kemenkomarves, Kemenkeu, KemenPUPR, KemenATR/BPN, Kominfo, Kemenperin, KemenESDM, Direksi BUMN sektor transportasi, para akademisi dari UGM, Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya, dan ITB. [PR/YS]