Suasana proses bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Kamis (3/3). Lembaga riset pasar global Frost and Sullivan menyatakan pada 2015 hingga 2020 industri transportasi dan logistik di Indonesia akan meningkat hingga 15,4 persen. ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan/aww/16.

Jakarta [JDN] – Dana Moneter Internasional (IMF) memproyeksikan adanya prospek pertumbuhan ekonomi global. Hal itu mendorong IMF untuk meningkatkan proyeksi pertumbuhan globalnya. Mereka memperkirakan ada kenaikan 6 persen dalam ekonomi dunia pada 2021 dan 4,4 persen pada 2022. Namun, di saat bersamaan, IMF juga memperingatkan bahwa pemulihan berisiko menyimpang secara berbahaya.

“Pandemi belum bisa dikalahkan, dan kasus virus semakin cepat di banyak negara,” kata Kepala Ekonom IMF Gita Gopinath pada konferensi virtual yang memperkenalkan Outlook Ekonomi Dunia April 2021 pada Selasa (6/4/2021) waktu AS.

Ekonomi global berkontraksi sebesar 3,3 persen pada tahun 2020 setelah negara-negara, baik kaya, miskin, besar dan kecil, menerapkan pembatasan dan penguncian yang ketat untuk menghentikan penyebaran virus corona yang mematikan.

Sekarang, IMF memperkirakan tahun yang lebih baik untuk pertumbuhan ekonomi global terutama didorong oleh pemulihan yang cukup besar di Amerika Serikat, di mana IMF memperkirakan ekonomi akan tumbuh 6,4 persen tahun ini.

Zona Euro juga terlihat rebound tahun ini meskipun pada kecepatan yang lebih lambat 4,4 persen, sementara ekonomi China diproyeksikan tumbuh 8,4 persen.

Gopinath memperingatkan, risiko terpuruknya ekonomi yang dalam bisa terjadi untuk negara dengan program vaksin yang lebih lambat, dukungan kebijakan terbatas, dan mereka yang bergantung pada pariwisata,

Kerugian tahunan rata-rata dalam produk domestik bruto (PDB) per kapita selama tahun 2020 hingga 2024 diproyeksikan menjadi 5,7 persen di negara-negara berpenghasilan rendah, dan 4,7 persen di pasar negara berkembang. Kerugian di negara maju diperkirakan lebih kecil, di 2,3 persen.

“Kerugian seperti itu membalikkan perolehan dalam pengentasan kemiskinan, dengan tambahan 95 juta orang diperkirakan telah memasuki kelompok sangat miskin pada tahun 2020,” kata Gopinath.

Pekerja dan perempuan muda berketerampilan rendah tetap lebih terpengaruh oleh keterpurukan  ekonomi akibat pandemi. Di sisi lain, banyak dari pekerjaan yang hilang kemungkinan besar tidak akan kembali.

Namun, IMF mengatakan, dampak terburuk telah dihindari berkat tindakan kebijakan yang cepat di seluruh dunia termasuk dukungan fiskal sebesar US$ 16 triliun. [Aljazeera/YS]