Ilustrasi pesawat di Jepang. [Foto: Reuters]
New York [JDN] – Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) menyebutkan, industri penerbangan global tahun ini akan menghadapi kerugian hampir US$ 48 miliar atau sekitar Rp 698 triliun karena sektor ini masih terpuruk dihempas pandemi Covid-19.

“Krisis ini lebih lama dan lebih dalam dari yang diperkirakan siapa pun. Kerugian akan berkurang mulai 2020, tetapi kesulitan akibat krisis meningkat,” kata Direktur Jenderal  Willie Walsh dalam sebuah pernyataan seperti dikutip RT.com, Kamis (22/4/2021).

Disebutkan, data terbaru yang disajikan IATA menunjukkan, kondisinya sekitar 25% lebih buruk dari perkiraan sebelumnya. Prediksi semula, kerugian tahun ini hanya sekitar US$ 38 miliar.

Kerugian industri penerbangan diperkirakan mencapai sekitar sepertiga dari apa yang terjadi pada tahun 2020, ketika industri ini kehilangan lebih dari US$ 126,4 miliar karena penyebaran virus corona dan memaksa banyak negara menutup perbatasan.

Dia menambahkan, pembatasan perjalanan yang diberlakukan oleh sejumlah negara masih mempengaruhi permintaan perjalanan internasional. IATA saat ini memperkirakan lalu lintas global pada tahun 2021 hanya 43% dari perolehan sebelum krisis.

Menurut IATA, ini menandai adanha peningkatan dibandingkan tahun lalu, namun tetap masih “jauh dari pemulihan”.

“Kerugian industri dalam skala ini menyiratkan kerugian tunai sebesar US$ 81 miliar pada 2021, masih lebih baik dari kerugian sebesar US$ 149 miliar pada 2020,” kata IATA.

Disebutkan, bantuan pemerintah di sejumlah negara telah mencegah kebangkrutan yang meluas di industri penerbangan. Di mana berpengaruh kepada jutaan pekerjaan secara global.

Pada Senin, Departemen Luar Negeri AS mengumumkan niatnya untuk memperluas peringatan “Jangan Bepergian” ke sekitar 80% negara di seluruh dunia karena risiko terkait pandemi.

Awal bulan ini, Pemerintah Inggris mengisyaratkan mereka tidak yakin apakah perjalanan internasional yang tidak penting dapat dilanjutkan pada 17 Mei seperti yang direncanakan semula.

IATA mencatat, kurangnya kemajuan dalam pembukaan kembali sektor penerbangan mempengaruhi ekonomi yang lebih luas. Hal tersebut menempatkan sebagian besar dari US$ 3,5 triliun dalam PDB dan 88 juta pekerjaan terkait industri penerbangan berada dalam risiko. [RT/YS]