Ilustrasi Desa Devisa Jembrana, Bali. [Foto: Antara]
Jakarta [JDN] –  Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI)/Indonesia Eximbank memastikan akan mengembangkan Desa Devisa di sejumlah lokasi lain. Desa Devisa merupakan program pendampingan yang digagas berbasis pengembangan masyarakat atau komunitas.

Hingga saat ini LPEI telah berhasil membentuk dua Desa Devisa yaitu Desa Devisa Kakao di Jembrana, Bali dengan komoditas unggulan berupa biji kakao yang difermentasi dan Desa Devisa Kerajinan di Bantul, Yogyakarta dengan produk kerajinan ramah lingkungan.

“Keberhasilan penerapan program Desa Devisa di dua wilayah ini kami harapkan dapat diduplikasi ke sejumlah wilayah di Indonesia. Saat ini LPEI sedang berproses untuk pengembangan Desa Devisa di beberapa wilayah yang memiliki potensi komoditas unggulan antara lain beras dan kopi,” ujar Corporate Secretary LPEI Agus Windiarto dalam keterangan tertulisnya di laman resmi LPEI, Senin, 12 Juli 2021.

Disebutkan, program Desa Devisa memberi kesempatan bagi wilayah yang memiliki produk unggulan berorientasi ekspor untuk mengembangkan potensi secara ekonomi, sosial dan lingkungan bagi kesejahteraan masyarakatnya.

Wilayah yang berpotensi untuk diberikan pendampingan dalam kegiatan Community Development akan dianalisa menggunakan indikator kunci klasifikasi kriteria dan parameter untuk mengukur kebutuhan pengembangan menjadi Desa Devisa. Pertimbangannya sejumlah aspek yaitu produk, konsistensi dan keberlanjutan produksi, pemberdayaan masyarakat dan koordinasi antar pemangku kepentingan, produsen dan manajerial, infrastruktur dan sarana penunjang lain.

Pendampingan LPEI dilakukan bersama beberapa lembaga yang berhubungan dengan perdagangan, ekspor, budidaya pertanian serta akses pembiayaan. Contohnya bersama Institut Pertanian Bogor yang merupakan salah satu anggota dari University Network for Indonesia Export Development (UNIED), LPEI mengkaji indikator untuk mengembangkan sebuah desa menjadi Desa Devisa.

Program Desa Devisa ini selain meningkatkan kapasitas masyarakat daerah dan mengembangkan komoditas unggulan desa juga mendorong partisipasi masyarakat desa dalam rantai pasukan ekspor global baik secara langsung maupun tidak langsung sehingga dapat menghasilkan devisa dan berkontribusi kepada negara melalui ekspor.

Ia menambahkan, pendampingan dan pengembangan masyarakat dalam program Desa Devisa ini akan membawa produk lokal Indonesia mendunia serta memberikan dampak positif terhadap peningkatan ekonomi, sosial dan lingkungan bagi masyarakat setempat.

Sebelumnya, Direktur Eksekutif LPEI Sinthya Roesly saat meresmikan desa devisa di Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana, pertengahan Desember lalu mengatakan, Kabupaten Jembrana, Bali sekarang memiliki desa dengan predikat penghasil devisa (desa devisa) dari sektor produksi kakao.

“Ada 30 desa di seluruh Indonesia yang berpotensi menghasilkan devisa. Potensi itu berdasarkan pemetaan kami terhadap komoditas unggulan lokal,” kata dia.

Ia mengatakan, melalui peningkatan kualitas pengetahuan dan keterampilan masyarakat lokal, pembangunan infrastruktur, pengembangan koperasi dan komoditas unggulan daerah setempat, maka pengembangan ekonomi kerakyatan dapat terwujud.

Menurut dia, konsep ekonomi kerakyatan masih menjadi faktor fundamental dalam membangun, mengembangkan ekonomi serta meningkatkan kesejahteraan rakyat setempat.

“Desa devisa menjadi salah satu solusi bagi pengembangan ekonomi dan komoditas unggulan suatu daerah,” katanya.

Ia menjelaskan, desa devisa adalah kelompok/cluster tertentu yang berpotensi untuk melakukan aktivitas produksi secara berkelanjutan, untuk ambil bagian dalam rantai pasokan ekspor global baik secara langsung maupun tidak langsung. [PR/YS]