Ilustrasi program vaksinasi. [Reuters]
Jakarta [JDN] – Laporan terbaru Yayasan Rockefeller mengungkapkan adanya indikasi cadangan darurat Dana Moneter Internasional (IMF) akan digunakan untuk program vaksinasi di negara-negara miskin. Dana itu bisa mencapai US$ 44 miliar dan bisa memenuhi program vaksin bagi 70 persen populasi di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah pada akhir tahun 2022. Dana itu sudah mencukupi tanpa perlu tambahan untuk negara-negara kaya. Demikian laporan Yayasan Rockefeller yang dirilis, Selasa (5/4/2021).

Pejabat keuangan dari Kelompok G-20, atau negara dengan ekonomi teratas, diharapkan mendukung alokasi baru sebesar US$ 650 miliar dari Hak Penarikan Khusus (SDR) IMF pekan ini untuk membantu negara-negara mengatasi pandemi dan dampak ekonominya.

SDR adalah cadangan devisa tambahan yang digunakan IMF untuk memberikan pinjaman darurat. Negara-negara yang menghadapi kekurangan neraca pembayaran dapat menukar SDR mereka dengan negara anggota IMF lainnya. Hal itu dilakukan dengan mata uang yang biasa diperdagangkan untuk memenuhi kebutuhan jangka pendek.

Menurut IMF dan para ahli lainnya, tingkat program vaksinasi dan perkembangan kebangkitan ekonomi sangat berbeda di seluruh dunia.

Laporan Rockefeller mengatakan, negara-negara kaya dapat mengalokasikan kembali SDR baru mereka untuk segera menutup kesenjangan pendanaan dan membuat lebih banyak orang divaksinasi di seluruh dunia. Hal tersebut diperlukan untuk mencegah mutasi virus yang dapat menghambat pemulihan ekonomi global. [Aljazeera/YS]