Ilustrasi Covid-19. [Foto: Istimewa]
Jakarta [JDN] –  Badan Pusat Statistik (BPS) melansir, terdapat 19,10 juta orang (9,30 persen penduduk usia kerja) yang terdampak pandemic Covid-19 di Indonesia. Angka itu terdiri atas pengangguran karena Covid-19 sebanyak 1,62 juta orang, Bukan Angkatan Kerja (BAK) karena Covid-19 (0,65 juta orang), tidak bekerja karena Covid-19 (1,11 juta orang), dan penduduk bekerja yang mengalami pengurangan jam kerja karena Covid-19 (15,72 juta orang).

“Berbeda dengan sebelumnya yang disajikan secara tahunan, data yang disajikan saat ini adalah tiga periode semesteran yaitu Februari 2020, Agustus 2020, dan Februari 2021. Hal ini untuk menunjukkan perubahan dari dampak pandemi Covid-19 pada ketenagakerjaan,” tutur Kepala BPS Suhariyanto dalam konferensi pers daring di Jakarta, Rabu (5/5/2021).

Dijelaskan, komposisi angkatan kerja pada Februari 2021 terdiri atas 131,06 juta orang penduduk yang bekerja dan 8,75 juta orang pengangguran. Apabila dibandingkan Februari 2020 yaitu kondisi di mana belum terjadi pandemi Covid-19 di Indonesia, terjadi penurunan jumlah angkatan kerja sebanyak 0,41 juta orang. Penduduk bekerja mengalami penurunan sebanyak 2,23 juta orang dan pengangguran meningkat sebanyak 1,82 juta orang.

Sementara itu, apabila dibandingkan kondisi Agustus 2020 (kondisi pandemi Covid-19), jumlah angkatan kerja meningkat sebanyak 1,59 juta orang. Penduduk bekerja naik sebanyak 2,61 juta orang dan pengangguran turun sebanyak 1,02 juta orang.

Sejalan dengan jumlah angkatan kerja, Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) juga mempunyai pola yang sama. TPAK adalah persentase banyaknya angkatan kerja terhadap banyaknya penduduk usia kerja. TPAK mengindikasikan besarnya persentase penduduk usia kerja yang aktif secara ekonomi di suatu negara/wilayah.

Ia menjelaskan, TPAK pada Februari 2021 sebesar 68,08 persen, turun 1,13 persen poin dibanding Februari 2020 namun naik sebesar 0,31 persen poin dibanding Agustus 2020. Berdasarkan jenis kelamin, TPAK laki-laki sebesar 82,14 persen lebih tinggi dibanding TPAK perempuan yang sebesar 54,03 persen. Apabila dibandingkan Februari 2020, baik TPAK laki-laki maupun TPAK perempuan mengalami penurunan, tetapi jika dibanding Agustus 2020 TPAK perempuan mengalami kenaikan mencapai 0,90 persen poin.

Suhariyanto melanjutkan, pada Februari 2021, penduduk bekerja paling banyak berstatus buruh/karyawan/pegawai yaitu sebesar 37,02 persen, sementara yang paling sedikit berstatus berusaha dibantu buruh tetap/dibayar yaitu sebesar 3,36 persen. Dibandingkan Februari 2020, status pekerjaan yang mengalami penurunan adalah buruh/karyawan/pegawai (2,66 persen poin), berusaha dibantu buruh tetap/dibayar (0,32 persen poin), dan berusaha dibantu buruh tidak tetap/tidak dibayar (0,10 persen poin). Apabila dibandingkan Agustus 2020, penurunan terjadi pada status berusaha sendiri, pekerja bebas di pertanian dan pekerja bebas di nonpertanian masing-masing sebesar 0,81 persen poin, 0,79 persen poin, dan 0,49 persen poin.

Berdasarkan status pekerjaan utama, penduduk bekerja dapat dikategorikan menjadi kegiatan formal dan informal. Penduduk yang bekerja di kegiatan formal mencakup mereka yang berusaha dengan dibantu buruh tetap/dibayar dan buruh/karyawan/pegawai, sedangkan sisanya dikategorikan sebagai kegiatan informal (berusaha sendiri, berusaha dibantu buruh tidak tetap/buruh tidak dibayar, pekerja bebas, dan pekerja keluarga/tak dibayar).

Pada Februari 2021, penduduk yang bekerja di kegiatan informal sebanyak 78,14 juta orang (59,62 persen), sedangkan yang bekerja di kegiatan formal sebanyak 52,92 juta orang (40,38 persen). Penduduk bekerja di kegiatan informal pada Februari 2021 naik sebesar 2,98 persen poin jika dibandingkan Februari 2020, tetapi apabila dibandingkan Agustus 2020 pekerja informal turun sebesar 0,85 persen poin. [BPS/YS]